0

Cerpen

Posted by Annida Zakiya Fatin on 19.16 in ,

Waktu Mengubah Segalanya

Oleh Annida Zakiya Fatin


PYAAARR...! Beberapa pecahan keramik putih kini berserakan di lantai yang berwarna senada. Sebagian serpihan keramik masih memantul menuju sudut ruangan. Piring yang tadinya bulat utuh kini telah hancur berkeping-keping menjadi serpihan-serpihan tak berguna.

Aku melanjutkan mengangkat sendok berisi nasi dan sepotong kecil telur goreng yang sudah setengah jalan menuju mulutku. Aku tahu, suara kunyahan mulutku telah merusak keheningan di ruangan ini. Ah biarlah, yang kuinginkan sekarang hanyalah menghabiskan sarapanku dan segera pergi dari sini. Aku heran, bagaimana mungkin wanita paruh baya itu hanya diam saja? Hm.. ya, aku yakin ini hanya masalah waktu. Mereka hanya terjebak sejenak dalam emosi batin masing-masing. ­­ Pasti tak lama lagi mereka akan tersadar dan segera memulai ritual pagi.

”Kau ini...! Dasar laki-laki bodoh!” ucap wanita yang duduk bersebelahan denganku.


Ia berdiri dari tempat duduknya kemudian memutar tubuhnya membelakangi meja makan klasik berwarna coklat keemasan dengan ukiran di setiap sudutnya. Kini wajahnya berpapasan dengan wajah seorang laki-laki yang masih berdiri mematung sejak tadi. “Lihat apa yang telah kaulakukan! Hanya memegang piring saja tak becus. Kalau seperti ini terus semua barang di rumah ini bisa hancur karenamu.”

”Hah... dasar kau ini! Ini kan hanya masalah sepele. Aku bahkan bisa menggantinya dengan seribu piring yang lebih bagus.” Akhirnya laki-laki berusia 51 tahun itu membuka mulut.

”Apa katamu? Masalah sepele? Kau tak ingat sudah berapa banyak piring yang kaupecahkan?”

”Dasar cerewet! Aku akan menggantinya berapa pun yang kauinginkan.”

”Kau yakin dengan ucapanmu itu, ha? Sadarlah! Sekarang apa yang bisa kaubanggakan? Perusahaan bodohmu itu? Hah! Aku yakin tak lama lagi perusahaan itu juga akan bangkrut. Perusahaan besar sekalipun pasti akan hancur jika dipimpin oleh orang sepertimu.”

”Diam kau!”

Yap! Dugaanku tepat. Inilah rutinitas keluargaku. Tiada hari tanpa bertengkar. Hal ini sudah menjadi konstitusi tak tertulis dalam keluarga ini. Kadang aku heran, apa mereka tak bosan melakukan hal semacam itu? Pagi, siang, malam, mereka selalu beradu mulut, saling mengolok satu sama lain, saling melempar kata-kata busuk, dan akhirnya terjadi perang dingin diantara keduanya sampai adanya masalah baru yang bisa diperributkan. Hhh... Dasar orang tua.

Aku segera menghabiskan beberapa sendok terakhir sarapanku. Kemudian aku beranjak dari tempat dudukku dan segera meraih tas punggung hitam yang kuletakkan di kursi sebelah kiriku. Kulangkahkan kakiku menuju pintu keluar. Langkahku terhenti. Pandanganku menangkap sosok anak laki-laki dengan pakaian bercorak biru tua dan topi merah di kepalanya. Wajahnya melukiskan sebuah keceriaan yang rasanya tak akan pernah pudar. Senyuman manisnya selalu berhasil membuatku iri padanya. Aku tersenyum simpul melihat gambaran diriku 5 tahun lalu yang masih terpampang rapi di bingkai foto itu.

”Adi...!”

Aku segera mengalihkan pandanganku dari foto itu menuju sumber suara. Aku berbalik dan mendapati kedua orang tuaku telah mengakhiri pertikaian tadi. Mereka masih berdiri di samping meja makan. Tatapan keduanya mengarah padaku.

”Jangan pulang terlalu malam!” ucap ibuku

”Hn…” jawabku acuh. Aku melanjutkan langkahku keluar dari rumah ini. Kususuri jalan yang setiap pagi kulewati. Kaki ini sudah terbiasa berjalan sejauh 500 meter untuk sampai ke SMA tercinta. Tapi bukannya aku fokus dengan jalanan yang kulalui, justru ucapan ibuku yang masih terngiang-ngiang di kepalaku. Aku berceloteh dalam hati sebagai ungkapan tak terima atas nasihat ibu tadi. Memangnya sejak kapan aku pulang malam, padahal aku kan selalu pulang tepat waktu. Tentu saja mereka tak tahu, mereka kan hanya bertengkar terus.

Hufh… andai saja mereka bisa saling mencintai satu sama lain, setidaknya sedetik saja. Sepertinya mereka tak pernah mengenal hal yang dinamakan kebahagiaan. Yah, sama sepertiku. Ah, bukan! Aku bukannya tak mengenal kebahagiaan, tapi kebahagiaanlah yang mengasingkan diri dariku. Setidaknya aku pernah merasakan kebahagiaan, walaupun sudah sangat lama. Aku masih ingat benar bagaimana rasanya. Kejadian 5 tahun lalu itu masih terekam jelas dalam memoriku.

”Ayo, cepat!” ajak temanku

Kami berlari menuju pohon besar di seberang jalan. Perjalanan pulang kami harus terhenti di bawah pohon ini. Kami baru saja pulang sekolah. Dekatnya hari ujian nasional mengharuskan kami untuk mengikuti pelajaran tambahan.

Hujan turun begitu deras sore ini. Sesekali kilatan cahaya yang cepat menerangi gelapnya langit mendung. Disusul dengan gelegar suara petir  yang makin membuat hatiku merinding. Kini suasana sekitarku semakin sunyi dan dingin.

”Ugh... Dingin...”

”Ini.” Kulepas jaketku. Aku sampirkan jaket ke punggung gadis di sebelahku. Segera kubenarkan posisi jaket agar bisa melindunginya dari dinginnya angin hujan.

Gadis itu tampak rapuh. Kulit putihnya terlihat memucat.  Gadis dengan kemeja putih yang tertutupi sebagian oleh jaket hijau dengan beberapa garis vertikal kuning di bagian lengannya itu mulai menggigil. Air hujan telah mengguyur sebagian tubuhnya. Kakinya bagian lutut ke bawah masih dialiri beberapa tetes air. Rok selutut berwarna merah yang ia kenakan telah basah di bagian bawahnya. Sedari tadi, angin menyibakkan rambut hitamnya yang tergerai itu.

Andai aku bisa, aku akan melindunginya dari tetes air dan hembusan angin yang menusuk ini. Meskipun aku harus merelakan tubuhku ini untuk melindunginya. Apa pun akan kulakukan demi orang yang ku­­...

DUAAR !

Kedinginan yang tadi melandaku kini berubah menjadi sebuah kehangatan. Dadaku terasa begitu hangat kali ini. Kurasakan sebuah rangkulan erat di pinggangku. Entah mengapa jantungku berdetak tak menentu. Aku tak tahu apa yang kurasakan saat ini. Dia masih memeluk tubuhku erat-erat. Mungkin suara petir tadi telah meraih sebuah titik ketakutan dalam hatinya. Aku segera menepis pemikiran tadi. Kucoba mengembalikan akal jernihku.

”Aku takut..,” ucapnya merintih penuh ketakutan.

”Tak apa, petirnya sudah tak ada.” Aku mencoba menenangkanya. Kupegang kedua lengannya. Kucoba menegakkan tubuhnya perlahan. Pandanganku tak sengaja menatap bola matanya. Entah mengapa jantungku berdetak semakin kencang. Aku merasa ada yang berbeda dengan dirinya, tapi aku tak tahu apa itu. yang pasti dia memiliki mata yang  begitu indah. Rasanya aku tak mau berhenti menatap matanya itu.

”Jangan tinggalkan aku,” suaranya menyadarkanku dari perasaan aneh yang entah apa namanya itu.

”Kamu ini bicara apa, to? Jelas aku tidak akan meninggalkanmu.”

”Janji, tho?”

”Yanti, aku akan pasti ada jika kamu membutuhkanku,” aku tersenyum kepadanya.

Maturnuwun ya, Di?”

Aku tersenyum sendiri mengingat kenangan manis itu. Cinta monyet. Kurasa itulah namanya. Tapi, jika itu memang cinta monyet, kenapa aku tak bisa melupakannya? Padahal aku sudah mencobanya berkali-kali. Apa cinta monyetku itu telah bermetamorfosa menjadi cinta sejati? Ah, bicara apa to aku ini. Setahuku cinta sejati itu perasaan antara dua orang yang saling mencintai. Lha ini, tak ada kepastian. Bahkan kemungkinan terbesarnya cintaku ini hanyalah cinta sepihak. Selama ini aku hanya bisa mewujudkan cintaku dalam dunia khayal. Sebenarnya aku ingin sekali mengetahui kepastian darinya, tapi, apa daya.  Dia telah pergi jauh dari hidupku.

Aku masih ingat betapa hancurnya diriku waktu itu. Sehari setelah peristiwa tak terlupakan tadi, aku diberitahu temanku bahwa Yanti dan keluarganya telah pindah ke Bandung untuk urusan bisnis ayahnya. Seketika hatiku terasa hancur. Puing-puing semangat dalam diriku runtuh begitu saja. Aku tersesat dalam kehampaan. Aku hidup dalam kegelapan. Seolah matahari tak memancarkan cahayanya lagi. Entah mengapa hatiku tak pernah berhenti berharap. Aku yakin mentari akan bersinar memberikan cahaya dalam hidupku lagi.

”Hey, Rani..! Tunggu aku,” suara gadis dibelakangku membuyarkan lamunanku.

Aku mencoba mengumpulkan kesadaranku menuju dunia nyata ini. Kini aku berdiri di depan gerbang sekolahku. Kulihat beberapa anak sedang sibuk dengan urusan masing-masing. Aku segera menuju kelasku. Kulalui hari ini seperti biasanya. Mengikuti pelajaran, mengerjakan tugas, berdiam diri di kelas ketika jam istirahat, dan mencoba sebisa mungkin untuk mengasingkan diri dari teman-temanku.

Sepulang sekolah, aku bergegas pulang. Sekitar 5 menit dari sekolah, aku sampai di depan rumah tingkat bercorak khas Jawa dengan warna kuning mendominasi di bagian depanya. Aku ingin segera masuk ke dalam rumah itu dan menghempaskan tubuh ini di tempat tidurku. Aku terus melangkah, sebelum kusadari seorang gadis berdiri di depan pintu rumah.

Gadis dengan tinggi semampai itu memegang secarik kertas dan berkali-kali mengamati kertas itu. Beberapa saat ia juga mengamati rumahku. Dandananya membuatnya tampak asing dimataku. Ia memakai sepatu merah berukuran besar dengan palet putih di bagian bawah. Celana jeans selutut berwarna hitam yang ia kenakan semakin memperjelas kulit putihnya. Di atasnya, ia memakai kemeja hitam dengan bordir bergambar tengkorak di bagian punggungnya. Kemeja itu ia biarkan terbuka di bagian depan, memperlihatkan kaos merah yang berpadu dengan warna sepatunya. Terlihat jam tangan hitam melingkari pergelangan tangan kirinya. Rambut hitam ketal yang ia kuncir penuh membuatnya terlihat sempurna sebagai gadis tomboi.

Siapa dia? Apa yang dia lakukan di sini? Muncul beberapa pertanyaan dalam benakku. Aku memutuskan untuk mendekatinya. Kulangkahkan kaki ini mendekat padanya. Langkahku terhenti. Jantungku terasa berhenti berdetak ketika kudapati gambaran wajahnya. Wajah itu terlihat famliar bagiku. Mungkinkah dia...? ah, kurasa tak mungkin. Ia bukan anak tomboi seperti itu. Bagaimana mungkin wajah gadis itu sangat mirip denganya?

”Adi...!” Gadis itu menghampiriku dan seketika memeluk erat tubuhku.

Aku merasakan dekapanya yang begitu hangat. Jantungku terasa berdetak semakin cepat, tapi setiap tetes darah dalam nadiku terasa membeku seketika itu. Tubuhku melemas. Aku tak berdaya dalam dekapannya. Otakku terasa tak bisa berfikir lagi. Aku tak percaya dengan semua ini. Apa ini nyata? Atau hanya sebatas khayalanku saja? Yanti?”

Aku sangat merindukanmu.”

Apa ini benar-benar kau?” Aku masih tak percaya dengan apa yang ada di depanku ini.

Ya, ini aku.” Dia melepaskan dekapannya. Seulas senyuman menghiasi bibir indahnya.

Kubalas senyum manis itu. Aku tak tahu apa yang harus kukatakan. Lidahku seolah membeku begitu saja. Aku masih tak menyangka semua ini terjadi. Dia tak hanya berada dalam samudra imajinasiku. Kini dia bersamaku, di sini, tepat di depanku.

Hey, apa kau tak merindukanku?”

Eh? Ee... Tentu saja aku merindukanmu.” Bahkan aku sangat merindukanmu, tambahku dalam hati. Sejak kapan kau pulang ke sini?”

Sejak kemarin. Aku dan keluargaku akan tinggal di sini lagi. Yah, kau tahu kan betapa sibuknya ayahku itu?”

Tentu saja. Apa kau akan tinggal lama di sini?”

Kurasa begitu. Kata ayahku, dia akan membangun perusahaan yang lebih besar di sini. Jadi, tidak menutup kemungkinan jika kami selamanya akan menetap disini.”

Baguslah,” seulas senyuman mengembang di wajahku. Ngomong-ngomong, kau berubah drastis ya? Seingatku, dulu kau itu feminim, lemah lembut, dan sekarang, lihatlah! Wow, kau tampak sangat tomboi, hahaha...” ucapku setengah bergurau.

hahaha... Ya, menurutku aku lebih cocok menjadi diriku yang seperti ini. Toh, bukannya lebih keren yang seperti ini, ya? Dari pada diriku yang dulu, gadis kecil penakut yang cengeng. Kenapa dulu aku bisa seperti itu, sih? Huh memalukan!”

”Menurutku tidak seburuk itu. Dulu kau gadis yang manis, kau juga cantik.”

”Jadi, menurutmu sekarang aku tidak cantik?”

”Tentu saja sekarang masih tetap cantik. Hahaha...”

”Haha, kau bisa saja. Ternyata kau masih sama seperti dulu, tapi, kenapa Sita berkata bahwa kau sudah berubah? Katanya kau sekarang jadi pemurung dan pendiam. Justru sebaliknya yang kulihat.”

”Sita?”

”Iya, Sita teman SD kita. Aku bermain ke rumahnya kemarin.”

”Oh, dia. Ya mungkin karena dia tak dekat denganku. Jadi dia tak tahu yang sebenarnya.” Tentu saja aku tak sama seperti yang Sita sebutkan. Semua itu karena kau telah kembali. Kini kau ada di sampingku, memberikan sebuah kebahagiaan dalam hatiku ini, gumamku dalam hati. ”Kau masih ingat dia, to?”

”Jelas lah, aku tak akan pernah melupakan semua temanku di kota Magelang ini. Terutama kau. Haha.”

”Kau bisa saja. Yanti, ayo masuk ke rumahku!”

”Baiklah. Oh ya, Di. Bisakah kau memanggilku dengan sebutan Novi saja?”

”Novi? Memangnya apa to yang salah dengan nama Yanti?”

”Yahh... Kau tahu, nama itu terlalu ndeso. Jadi, maukah kau memanggiku dengan nama depanku saja?”

” Baiklah. Ayo kita masuk, Yan! Eh, masudku, Nov.” Entah mengapa hatiku merasa janggal dengan semua ini.

Kami masuk ke dalam rumah. Di balik pintu depan rumahku itu, ayah dan ibuku sedang beradu mulut yang tidak lain hanya mempeributkan masalah sepele. Sungguh memalukan!

”Siang, Om, Tante!” Dia tersenyum kepada kedua orang tuaku. Suaranya menghentikan keributan di ruang tamu itu.

”Eh, siang, Dek! Temanya Adi ya?” tanya ibuku.

”Tante, ini saya, Yanti.”

Oalah, teman kecilnya Adi yang dulu sering main ke sini itu, to?”

”Iya, Tante. Tante sedang ada masalah dengan Om, ya?”

”Hah, biasalah, Nak Yanti. Ayahnya Adi itu memang pembuat masalah!”

”Apa kau bilang? Pembuat masalah?” Ayahku tiba-tiba menyela dengan nada tinggi.

”Memang benar, kan?” balas ibuku.

”Sudahlah, Om, Tante. Tak ada gunanya bertengkar. Lagipula, kasihan Adi jika ia harus hidup dalam keributan seperti ini. Itu bisa merusak mentalnya.”

”Ayo ke halaman belakang saja!” Kutarik lengan kiri Yanti agar kami bisa segera menjauh dari keributan berikutnya yang akan terjadi. Argumenku salah. Aku tak mendengar sedikit pun kegaduhan yang ditimbulkan kedua orang tuaku. Mereka terdiam. Entah sampai kapan keheningan itu akan berlangsung. Aku dan Yanti segera meninggalkan ruang tamu itu menuju halaman belakang.

Sejak hari itu, hidupku berubah. Semua kepedihan yang selalu menyelimutiku beralih menjadi sebuah kebahagiaan. Kebahagiaan yang dulu kunanti, kini telah mengalir dalam darahku, selelu menyertaiku di setiap hembusan nafasku. Sang mentari telah kembali, memberikan berkas-berkas cahaya kebahagiaan dalam hidupku. Ia pancarkan cahayanya, menerangi sebuah senyuman untuk menemukan jalan menuju padaku.

Sudah dua minggu ini kulalui hari-hariku bersamanya. Sungguh hari-hari yang penuh kebahagiaan, tapi, kebahagiaan itu tetap tak bisa memungkiri kejanggalan yang kurasakan. Dia sudah berubah! Dari hari ke hari, semakin terlihat jelas semua perubahan itu. Ia berbeda dengan orang yang kucintai 5 tahun lalu. Aku tak tahu tentang perasaanku padanya saat ini. Yang kutahu pasti, dia telah menghapuskan peperangan dalam keluargaku. Dia sering berbincang-bincang dengan kedua orang tuaku ketika ia bermain ke rumahku. Entah kata apa yang sering ia lantunkan sehingga mereka kini menempuh jalan persatuan.

Sore ini Yanti bermain ke rumahku. Kami memainkan  beeberapa game dari playstation milikku.

”Yeey... Aku menang!” ucapnya penuh kepuasan.

”Haahh... Baiklah, kau menang.”

”Haha, akui saja. Aku bermain lebih baik darimu, kan?”

”Ah, mana mungkin. Itu karena kau sedang beruntung saja.”

”Walaupun aku sedang tak beruntung, aku pasti bisa ddengan mudah mengalahkamu.”

”Iyo, po?”

”Tentu saja.”

”Tak mungkin,” ledekku sambil tersenyum padanya.

Ngomong-ngomong, apa kau punya pacar, Di? Kau tak pernah cerita hal itu kepadaku.”

”Eh? Pacar ya? Aku tak punya. Memangnya kenapa?”

”Ya, tak apa sih. Berarti kita sama-sama jomblo.”

”Benarkah? Apa kau tak punya pacar?”

”Iya, aku tak punya pacar. Emm.. Di, kau ingat tidak kejadian lima tahun lalu? Ketika kita pulang les.”

”Tentu saja, aku masih ingat benar bagaimana kejadiannya. Rupanya kau juga masih ingat, to?”

”Mana mungkin aku melupakannya. Itu sebuah kenangan manis yang tak terlupakan di hidupku.” muncul seulas senyuman di wajahnya.

Apa maksud perkataanya itu? Apa dia...?

”Bukanya kau pernah berjanji kau akan ada jika aku membutuhkanmu?” Ia menatapku dalam-dalam.

”Ya.”

”Adi... Sekarang aku membutuhkanmu. Aku membutuhkan seseorang untuk mengisi hati ini. Apa kau akan ada untukku? Apa kau akan membantuku mengisi kehampaan hatiku ini?” Tatapanya terlihat semakin dalam.

Hening.

Aku tak tahu apa yang harus kukatakan. Tatapan matanya seolah membekukan pikiranku. Aku diselimuti antara perasaan bahagia dan kebingungan. Semua itu bercampur menjadi satu dalam benakku.

”Aku akan pulang.” Dia mengalihkan pandanganya dari mataku. Ia berdiri. Berjalan menuju pintu keluar. Beberapa langkah kemudian, Ia berhenti. ”Tolong jawab pertanyaanku. Kutunggu besok jam sepuluh di alun-alun kota. Aku tak memaksamu untuk datang.” Ia melanjutkan langkahnya. Sosoknya menghilang di balik pintu kayu yang cukup tebal itu.

Aku tak bisa mengalihkan pikiranku ke hal lain. Semua perkataan Yanti tadi masih tertata rapi dalam ingatanku. Aku berulang kali mengingat kejadian itu, tapi aku tak juga menemukan jawaban yang tepat untuk pertanyaan tadi.

Udara Malam ini terasa begitu menusuk tulang rusukku. Suasana begitu sunyi, begitu senyap. Jam dinding di kamarku sudah menunjukkan pukul dua dini hari.

Sekeras apa pun aku berusaha, mataku tak mau terpejam. Mataku seolah tak mengizinkanku untuk meninggalkan masalah yang belum terselesaikan ini. Akhirnya kuputuskan untuk memikirkannya sekali lagi. Mataku beralih memandangi langit-langit kamarku.

Yanti. Apakah aku maih mencintainya? Perubahannya telah memunculkan sebuah akan perasaanku kepadanya. Dia bukan Yanti yang kukenal 5 tahun yang lalu. Ia berbeda dengan orang yang selalu mengisi hatiku. Ia berbeda dengan orang yang selalu memenuhi setiap sudut memoriku. Tapi, ia tetaplah orang yang telah kunanti selama 5 tahun terakhir ini. Ia juga orang yang telah memberi sebuah kedamaian di keluargaku.

Betapa bodohnya aku ini. Mengapa tak pernah terpikir olehku bahwa dia akan berubah drastis seperti ini? Logikaku telah terbutakan oleh cintaku. Memang 5 tahun itu waktu yang sangat lama, jadi, wajar saja jika dia mengalami semua perubahan ini. Tapi, apa aku bisa mencintainya dengan menerima semua perubahan itu? Atau aku hanya mencintai Yanti yang kukenal 5 tahun lalu? Jika aku menerimanya, apa kelak aku bisa menerima perbedaan ini? Jika aku meolaknya, maka apa arti penantianku selama ini?

Ya! Aku akan mengambil keputusan ini. Aku harus berani melakukanya.  Inilah keputusan terbaik untuk kami berdua. Aku menghela nafas panjang. Aku segera bersiap untuk tidur. Akan kusimpan tenagaku ini agar besok aku bisa memberi tahu keputusanku ini dengan sebaik-baiknya. Segera ku benahi posisiku. Kupejamkan mataku.

Esok harinya, mentari bersinar cerah menerangi langit biru. Gumpalan-gumpalan awan putih tampak menari di atas sana. Kicauan-kicauan burung menciptakan nada-nada indah di alun-alun Magelang ini.

Kupertajam penglihatanku. Mataku mulai menelusuri setiap sudut alun-alun. Aku melihat Yanti di sana, duduk di bawah pohon besar pada bagian barat alun-alun. Aku segera menghampirinya. ”Novi!”

”Eh, kau sudah datang?”

”Apa kau sudah lama menunggu?” Aku duduk di sampingnya.

”Baru sebentar kok.”

”Baguslah, kau ke sini sendiri, ya?”

Sudahlah, Di. Tak perlu basa-basi lagi. Dengar, kau pasti sudah tahu ini. Aku mencintaimu. Aku mencintaimu sejak SD. Bagaimana denganmu? Apa kau mempunyai perasaan yang sama denganku?”

”Aku...aku juga mencintaimu sejak kita masih SD, tapi...”

”Benarkah itu? Jadi, maukah kau menjadi kekasihku?” ucapnya memotong pembicaraanku.

”Nov, dengar. Aku memang mencintaimu. Aku sangat mencintaimu. Tapi, aku sadar. Selama ini aku hanya mencintai Yanti yang kukenal 5 tahun lalu. Aku hanya mencintai Yanti, gadis kecil penakut yang cengeng. Memang, awalnya aku sangat bahagia ketika kau datang ke kota ini. Tapi, semakin lama hatiku semakin merasakan keganjalan akan perasaanku kepadamu.”

”Aku akan berubah. Aku janji.”

”Ssstt! Aku tak mau kau berubah karenaku. Jadilah dirimu sendiri, Nov.”

”Tapi, Di...”

”Terimakasih, karnamu, aku bisa belajar untuk selalu berpikir panjang. Terimakasih, karena kau telah memberikan sebuah kebahagiaan dalam keluargaku.” Aku tersenyum.

”Baiklah, aku mengerti. Aku akan berusaha melupakanmu.”

”Aku bangga mempunyai teman sepertimu.”

”Teman.”

”Ya, teman.” Aku tersenyum padanya.

Dia membalas dengan seulas senyum manisnya.

Ya, teman. Mungkin hanya sebatas itulah hubungan yang bisa kujalani dengan Yanti. Aku tak bisa memaksakan hatiku untuk mencintainya. Waktu telah mengubahnya. Waktu telah mengubah perasaanku padanya. Begitupula waktu telah mengubah perpecahan dalam keluargaku menjadi sebuah persatuan. Waktu pun telah mengubah dunia kelamku menjadi penuh warna. Waktu mengubah segalanya.

0 Comments

Posting Komentar

Copyright © 2009 Referensi All rights reserved. Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive.